• Berita,
  • Fundamental

Perintah Agama Yang Terefleksi Pada Pasar Modal

PERINTAH AGAMA YANG TEREFLEKSI PADA PASAR MODAL (‘Obligasi’ di Jalan Agama)

Sebagai umat beragama tentu kita meyakini betul bahwa segala kehidupan kita mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi bahkan sejak kita berada di rahim ibu hingga ‘rahim’ bumi (baca: meninggal) tentu sudah diatur sedemikian rupa oleh ajaran agama. Begitu pula dengan kegiatan kita di pasar modal, baik itu obligasi, reksadana dan saham ternyata itu semua terefleksi dari ajaran-ajaran agama Islam. Berikut ini akan saya kupas tuntas mengenai instrumen investasi di pasar modal yang tercermin dari ajaran agama.

Obligasi Pengertian bebas dari obligasi adalah bukti surat hutang yang dikeluarkan oleh emiten yang dimiliki oleh pemegang obligasi (investor) dimana isinya adalah kesanggupan emiten untuk melunasi pinjaman pokok beserta pemberian kupon atau diskonto dengan jumlah tertentu hingga obligasi tersebut jatuh tempo. Aksi korporasi penerbitan obligasi ini tentu dilatar-belakangi oleh beberapa faktor. Ada emiten yang menerbitkan obligasi untuk ekspansi usaha dan ada pula emiten yang menerbitkan obligasi untuk melunasi obligasi sebelumnya dengan harapan emiten tetap mendapatkan pinjaman utang dengan kupon yang rendah dan jangka waktu yang lama, hal ini tentu akan mempengaruhi tingkat liabilitas emiten. Sebagai investor tentu kita harus cermat dalam memilih obligasi, kita harus mengetahui tujuan emiten menerbitkan obligasi, kupon atau diskon yang diberikan dan tingkat kemampuan emiten dalam menjaminkan asetnya untuk melunasi obligasi beserta imbal hasilnya. Tentunya emiten yang menerbitkan obligasi untuk keperluan ekspansi dibandingkan dengan emiten yang menerbitkan obligasi untuk ‘gali lubang tutup lubang’ berbeda dalam memberikan besaran kupon atau diskon. Emiten yang menerbitkan obligasi untuk keperluan ekspansi tentu lebih diminati oleh investor. Secara psikologi investor tentu lebih senang meminjamkan uangnya untuk emiten yang ingin melakukan ekspansi. Contoh kasus pada obligasi Angkasa Pura (Persero) II senilai Rp 2 T dengan kupon 8,6% bertenor 5 tahun yang mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 3,8 – 4 kali. Menurut sumber dari berita online, Angkasa Pura II (AP II) akan menggunakan 92 persen dana hasil penerbitan obligasi untuk pengembangan bandara internasional Soekarno-Hatta. Sisanya 8 persen dialokasikan untuk proyek pengembangan ekspansi bandara lain yang dikelola AP II. Hal ini menegaskan bahwa investor cenderung lebih suka meminjamkan uangnya untuk emiten yang ingin melakukan ekspansi. Lantas apa ada perintah agama yang sejalan dengan prinsip obligasi? Tentu ada, jawabannya ada pada QS. Al Hadiid ayat 11: “ Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” Berdasarkan tafsir dari Ibnu Katsir : Menurut Umar ibnul Khattab, makna yang dimaksud ialah membelanjakan harta untuk keperluan jalan Allah. Maka tiap-tiap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan niat yang ikhlas dan tekad yang benar telah termasuk ke dalam makna umum ayat ini yang kemudian akan di berikan pahala yang baik dan rezeki yang memukaukan, yaitu surga kelak di hari kiamat. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah SWT: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadid: 11), Abu Dahdah Al-Ansari berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menghendaki pinjaman dari kita?” Rasulullah SAW lalu berkata “Benar, hai Abu Dahdah.” Abu Dahdah berkata, “Wahai Rasulullah, kemarikanlah tanganmu.” Maka Abu Dahdah menjabat tangan Rasulullah SAW lalu berkata, “Sesungguhnya aku pinjamkan kepada Tuhanku kebun kurmaku.”. Dia mempunyai kebun kurma berisikan enam ratus tangkal kurma, dan Ummu Dahdah bertempat tinggal di dalam kebun itu bersama anak-anaknya. Lalu Abu Dahdah datang dan memanggil istrinya, “Hai Ummu Dahdah.” Istrinya menjawab, “Labbaik”. Abu Dahdah berkata, “Keluarlah kamu, sesungguhnya kebun ini telah kupinjamkan kepada Tuhanku.”. Menurut riwayat lain, saat itu juga Ummu Dahdah berkata kepada Abu Dahdah, “Beruntunglah bisnismu, hai Abud Dahdah,” lalu Ummu Dahdah memindahkan semua barang dan anak-anaknya dari kebun itu, sedangkan Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyaknya pohon kurma yang berbuah subur di dalam surga milik Abu Dahdah.” . Menurut lafaz yang lain disebutkan, “Betapa banyak pohn kurma yang berjuntau buahnya berupa intan dan yaqut milik Abu Dahdah di dalam surga”. Adakah yang masih berfikir lagi untuk meminjamkan apa yang paling baik untuk jalan agama? Padahal Allah telah berjanji akan melipat gandakakan pinjaman tersebut. Tentu kupon yang diberikan Allah jauh lebih besar daripada kupon yang diberikan oleh emiten penerbit obligasi. Saya ingin berbagi kisah bahwa janji Allah itu benar adanya. Saat itu, saya sedang berangkat ke kampus dengan jalan kaki (penulis kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya), tiba-tiba ada pengendara motor yang mengaku mahasiswa dan dari kampus yang sama menceritakan bahwa dia mengalami musibah kehilangan dompet, bensin yang tinggal sedikit dan dia akan menempuh perjalanan ke Probolinggo. Setelah mendengarkan cerita tersebut, dia meminta saya untuk bersedia meminjamkan uang dengan jumlah tertentu untuk jaga-jaga beli bensin bahkan dia menjaminkan HP dan akan melunasi pinjamannya pada tanggal dan tempat yang disepakati. Kejadian tersebut sangat mirip dengan skema obligasi. Karena merasa iba saya memberikan sejumlah uang yang dia minta tanpa membawa jaminan HP yang dia berikan. Subhanallah, siang harinya ternyata saham yang saya memiliki memberikan cuan 10X lipat dari uang yang saya berikan kepada si Fulan tadi. Masih tidak percaya? Saya bagi kisah inspiratif lagi. Suatu hari, saya pergi ke bank kampus untuk melakukan waqaf uang, ada yang belum tahu waqaf uang? waqaf uang merupakan cara kita untuk me-waqafkan harta kita selain cara waqaf tanah dan kendaraan yang butuh nominal banyak. Beberapa hari kemudian, saat berada di dalam bus, saya terhindar dari kasus pencopetan HP android yang saat itu saya letakkan di dalam saku dada. Menyadari hal tersebut saya tetap bersikap tenang, mengingat calon pencopet tersebut adalah penjual asongan stick tahu yang sedang menjajalan dagangannya di dalam bus. Alhamdulillah, HP android yang senilai 40X lipat dari nominal waqaf uang yang sempat saya salurkan tidak jadi berpindah pemilik. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Begitu besar kupon yang diberikan oleh ‘obligasi’ di jalan agama dibanding obligasi korporasi. Jika kita bandingkan dengan obligasi AP II yang memberikan kupon 8,6% bertenor 5 tahun, berarti selama 5 tahun kita mendapatkan keuntungan 43%. Berarti jika untuk menandingi cerita saya yang pertama dimana saya mendapatkan rejeki 10X lipat dalam hitungan jam, maka jika menggunakan obligasi AP II kita perlu waktu lebih dari 115 tahun dengan kupon 8,6% untuk mencapai keuntungan 10X lipat dari besaran pinjaman. Melalui tulisan ini, saya mengajak diri saya pribadi dan pembaca untuk tidak lupa melakukan obligasi di jalan agama dan tidak hanya mengejar obligasi korporasi semata. Insha Allah, lain waktu saya akan menulis “PERINTAH AGAMA YANG TEREFLEKSI PADA PASAR MODAL (Reksadana Mensucikan Harta)” dan “PERINTAH AGAMA YANG TEREFLEKSI PADA PASAR MODAL (Saham dengan Cuan Abadi)” By : Edi Murdiono ISP Surabaya murdionoedi@gmail.com