• Berita,
  • Fundamental

Pengertian dan Alasan Pengharaman Riba

A. Pengertian Riba
Secara lughawi (bahasa), riba adalah tambahan, karena salah satu perbuatan riba adalah meminta tambahan dari sesuatu yang diutangkan. Sedangkan secara istilah menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba adalah penambahan-penambahan yang disyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya, karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjaman dari waktu yang telah ditentukan.
Jadi riba pada dasarnya adalah segala bentuk pinjaman yang dilebihkan dari pokok yang dipinjamkan sebagai syarat dari mendapatkan pinjaman tersebut. Contoh: A meminjam uang kepada si B sebesar Rp 100.000, kemudian si B meminjamkan uang kepada si A dengan syarat si A harus membayar pinjamannya sebesar Rp 110.000 pada saat jatuh tempo dan akan terus bertambah jika si A tidak membayarnya saat jatuh tempo nanti. Maka uang lebih dari pokok pinjaman itulah yang disebut riba. Mekanismenya mirip dengan sistem interest atau bunga pada jasa keuangan.
Pada sistem ekonomi konvensional, uang memiliki nilai waktu didalamnya (time value of money) yang dapat bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan merupakan barang komoditi yang dapat diperjual-belikan. Namun dalam sistem ekonomi islam, uang hanya sebagai alat tukar, yang pertambahannya berfluktuatif tergantung laju perkembangan ekonomi. Hal ini sejalan dengan pendapat Imam Al-Ghazali (Algazel) yang mengibaratkan uang sebagai cermin yang tidak mempunyai warna, uang dapat merefleksikan barang-barang namun tidak dapat merefleksikan dirinya sendiri. Artinya uang tidak dapat menghasilkan uang.
B. Kenapa Riba Haram?
Banyak orang yang bertanya-tanya alasan riba diharamkan. Dalam pandangan ekonomi konvensional, riba ataupun bunga dikatakan wajar, karena faktor inflasi dan uang yang dipinjamkan akan dapat berkembang jika saja orang yang meminjamkan menginvestasikan uang tersebut di sektor rill. Namun hal tersebut tidaklah masuk akal, karena keuntungan yang didapat dari bunga tidak memiliki risiko didalamnya. Sehingga hal tersebut lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan investasi pada sektor riil.
Ada beberapa poin lagi yang dapat menjadi sebab mengapa riba diharamkan dalam agama Islam. Poin poin tersebut adalah:
1. Underlying transaction dalam pinjaman dengan sistem riba atau bunga adalah uang. Sedangkan sebagaimana yang telah dibahas diatas, uang dalam ekonomi islam bukanlah komoditas, melainkan alat tukar yang tidak dapat di perjual belikan dan tidak dapat beranak pinak secara tetap (fix income).
2. Dalam riba, yang meminjamkan pasti dapat tambahan dan yang meminjam pasti membayar tambahan dengan jumlah yang sudah ditentukan. Tanpa menimbang apakah si peminjam untung atau rugi. Hal tersebut menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sehingga terciptalah bubble economics, yaitu fenomena seakan-akan perekonomian suatu wilayah tumbuh dengan pesat namun sebenarnya tidak. Yang tumbuh dengan pesat bukanlah perekonomian suatu wilayah, melainkan perekonomian sekelompok orang-orang tertentu saja.
3. Sistem riba menyebabkan seseorang tidak produktif dan malas berusaha. Hal tersebut dikarenakan seseorang bisa saja mendapatkan fix income dengan hanya meminjamkan uangnya atau dengan menempatkan dananya di bank, kemudian seiring dengan berjalannya waktu uang tersebut akan beranak pinak.
Dari beberapa poin yang telah disebutkan tersebut, jelaslah mudarat atau keburukan yang timbul akibat riba sangat berpengaruh dalam keseimbangan ekonomi. Oleh sebab itulah Islam mengharamkan riba.
C. Dalil Pengharaman Riba
Dalam kitab suci umat Islam, dijelaskan larangan dan hukuman bagi siapa saja yang terjerat sistem riba. Ancaman bagi mereka yang terjerat sistem riba disebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an Surah Al-baqarah Ayat 278-279.
“278: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. 279: Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.
Ancaman dalam ayat tersebut berlaku untuk semua kalangan yang terjerat dengan sistem riba. Hal itu tak terkecuali dengan yang meminjamkan, yang meminjam, yang mencatat, maupun yang menyaksikannya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, yang dipercaya ummat Islam sebagai utusan Allah SWT.
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللّه صَلّي اللّه عَلَيْهِ وَ سَلّمَ ( آكِلَ الرِّبَا وَ مُوْكِلَهُ وِ كَاتِبَهُ وَ شَاهِدَىْهِ وَ قَالَ: (هُمْ سَوَاءٌ (رَواَهُ مُسْلِمٌ)
“ Rasulullah mengutuk orang yang memakan riba, orang yang memberikan makan dari hasil riba, penulis dan saksinya . “ Rasulullah saw. Bersabda : “ mereka itu sama.“ (HR.Muslim).<br />
Hadits tersebut menjadi dalil yang menunjukkan dosa orang-orang yang terjerat sistem riba dan pengharaman atas sesuatu yang mereka lakukan. Yang dimaksud موكله itu adalah orang yang memberikan riba, karena sesungguhnya tidak akan terjadi riba kecuali dari yang memberikannya. Oleh karena itu, dia termasuk dalam dosa. Sedangkan dosa penulis dan saksi itu adalah karena bantuan mereka atas perbuatan terlarang itu. Dan jika keduanya sengaja serta mengetahui riba itu maka sama dosanya bagi mereka.
Kedua dalil diatas menunjukkan betapa agama Islam sangat melarang sistem ribawi dalam kegiatan perekonomian. Baik kegiatan tersebut berskala makro maupun mikro. Sekecil apapun unsur riba tersebut, akan tetap diperhitungkan sebagai dosa dan dilaknat oleh Rasulullah SAW.

By : Indah Nurhabibah
ISP Jakarta
Indahnurhabibah6@gmail.com