• Berita,
  • Teknikal

Ekonomi Indonesia 2012-2017 : Sebuah Downward Spiral?

Perekonomian Indonesia bukanlah sebuah perekonomian kecil yang luput dari pandangan dunia internasional. Ekonomi Indonesia dengan SDA dan SDM-nya yang luar biasa melimpah dapat dikatakan mampu menarik hati investor-investor untuk menanamkan kapitalnya agar mendapatkan keuntungan (return) di masa yang akan datang. Hal ini cukup membantu, sebab kapasitas produksi suatu negara sangat ditentukan oleh capital stock yang ditanamkan dalam perekonomiannya.
Kapital dari luar negeri mulai datang membanjiri Indonesia pada masa Orba (Orde Baru). Ketika itu pemerintah membuka pintu bagi kapital asing untuk menstabilkan ekonomi yang begitu anjlok akibat hyperinflasi, gonjang-ganjing politik, intervensi pemerintah yang berlebihan terhadap nilai tukar, dsb. Kapital ketika itu datang bak malaikat penurun hujan di tengah gersangnya padang pasir tandus. Ekonomi Indonesia seketika mengalami perbaikan. Indonesia pun mengalami surplus dana ketika bonanza minyak tahun 1980-an terjadi. Ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan sehingga dijuluki sebagai ”Macan Asia” sebelum akhirnya terjatuh dalam krisis moneter pada akhir 90-an. Kemudian ekonomi nasional mulai bangkit lagi meskipun tersandung juga pada pertengahan tahun 2000. Pertumbuhan ekonomi terus meningkat hingga tahun 2011. Sebelum akhirnya mengalami tren yang menurun sejak tahun 2012 yang akan kita bahas nanti.
Perekonomian Indonesia begitu menjadi perhatian akhir-akhir ini, sebab selain sebagai salah satu emerging economies dengan GDP terbesar, ekonomi nasional juga dikenal sebagai one of five fragile emerging markets akibat nilai tukarnya yang sangat fluktuatif. Posisi perekonomian nasional tersebut pada akhirnya menjadi bahan prediksi penting bagi lembaga-lembaga keuangan berlevel internasional seperti PWC misalnya yang “bernubuat” bahwa Ekonomi Indonesia akan masuk ke-4 besar ekonomi dunia pada tahun 2050.
Tidak berhenti sampai di situ, posisi Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan tahunan IMF dan World Bank pada Oktober 2018 pun semakin membuat perekonomian nasional kita menjadi bahan obrolan utama negara-negara lain. Bahkan Christine Lagarde selaku Direktur Pelaksana IMF sempat mengatakan :
“Semua mata di dunia ekonomi akan melihat Indonesia. Ini waktu yang tepat untuk memaparkan kisah sukses”. (Antara News, 15 Oktober 2017).
Lalu Bagaimana jika yang terlihat di mata dunia ekonomi tersebut bukanlah kisah sukses namun kisah tersandung ?. Lantas bagaimana jika yang terekam dalam kelopak mata dunia ekonomi bukanlah kisah sukses namun kegagalan yang dibungkus kebohongan (seperti yang biasanya terjadi) ?.
Oleh karenanya penting bagi kita untuk menganalisa bagaimana kinerja perekonomian kita beberapa tahun belakangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mencari sumber masalahnya. Ketika kita sudah mengetahui kondisi kita serta tahu sumber masalahnya maka kita dapat mencari solusi yang terbaik. Pengetahuan tersebut juga bermanfaat untuk menghindari kita dari hoax dan berita yang menyesatkan.
Demi kepentingan artikel ini, kita akan membagi pembahasannya menjadi lima bagian. Pada bagian pertama kita akan membahas data makro ekonomi, kemudian kita akan membahas data mikro ekonomi, selanjutnya kita akan membahas faktor penyebab lemahnya ekonomi dan downward spiral, sebelum pada akhirnya kita juga akan membahas beberapa “pembodohan publik” yang dilakukan elit ekonomi politik.
A. Data Makro Ekonomi : Mengesankan atau ehm ehm…?
Sebagian besar dari kita pasti pernah mendengar bahwa secara makro, ekonomi kita hingga saat ini baik-baik saja, bahwa ekonomi kita tumbuh dengan baik dan tak ada kendala yang berpengaruh signifikan. Tapi sebagian dari kita pasti pernah juga mendengar kabar jika sebenarnya perekonomian kita sedang mengalami masa sulit. Lantas, yang manakah yang benar ?.
Pertumbuhan Yearly GDP mengalami tren yang menurun sejak 2011, dengan titik terendah pada tahun 2015 dimana GDP hanya tumbuh sebesar 4,88% saja.
Pertumbuhan PDB per-kuartal juga mengalami nasib yang sama. Quarterly GDP Growth memiliki tren yang menurun sejak Q1-2011 hingg Q2-2017. Seperti halnya grafik Yearly GDP Growth, angka pertumbuhan GDP per-kuartal juga memiliki titik terendah pada 2014 dan 2015.
Pertumbuhan GDP mengalami tren yang menurun adalah akibat menurunnnya pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga serta Konsumsi Pemerintah, dan Ekspor dimana keduanya masing-masing berkontribusi sebesar 63%-65% dan 19%-21% dari total GDP.
Seperti yang ditunjukkan oleh gambar di atas, pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga mengalami tren yang menurun sejak Q1-2014, palung penurunan terdalam adalah pada tahun 2015 yang pada waktu itu pertumbuhannya begitu anjlok hingga sampai pada angka 4,93%. Tren penurunan yang sama juga dialami oleh Pemerintah.
Anjloknya pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah yang kontribusinya mencapai 63%-65% dari GDP mengakibatkan kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi (GDP) juga turun.
Dari gambar di atas kita dapat melihat bahwa dalam rentang tahun 2012-2016, kontribusi Konsumsi Domestik mengalami penurunan yang curam, dari 6,37% menjadi 4,39%. Kontribusi Ekspor juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Selain itu, kontribusi Investasi juga tergolong cukup tajam dari 2,90% (2012) menjadi 1,45% (2016). Namun yang semakin membuat kita mengenyitkan dahi sembari bergeleng-geleng kepala adalah faktwa bahwa kontribusi Konsumsi Pemerintah dapat dikatakan NIHIL pada 2016 dan Semester-1 2017. Tahun 2015 memang kita mengalami surplus Konsumsi Luar Negeri, tapi hal itu terjadi karena Impor anjlok lebih parah daripada ekspor.
Finally, dari beberapa data dan grafik di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi secara makro memang memprihatinkan karena memiliki tren yang menurun sejak 5 tahun silam. Lalu bagaimana dengan mikro ekonomi ? Apakah data mikro ekonomi kita juga senada dengan data makroekonomi ?

Selengkapnya silahkan download di link berkut

EKONOMI INDONESIA 2012 HINGGA 2017

Sahabat Anda,
Redha Vahlevi
Ekonom Junior / SME Risk Manager @Bank Mandiri / Freelance Economic Author @Kontan